Wanita Palestina Berjumpa Kembali dengan Keluarganya Setelah 24 Tahun

Ia tidak dapat bepergian karena penjajah Israel melarangnya memiliki kartu identitas

Wanita Palestina Berjumpa Kembali dengan Keluarganya Setelah 24 Tahun
(Foto: Anadolu)

Tepi Barat, AAI - Seorang wanita Palestina dipertemukan kembali dengan keluarganya yang tinggal di Yordania untuk pertama kalinya dalam 24 tahun. Hal ini terjadi karena ia tidak dapat bepergian ke luar negaranya karena Israel menolak untuk mengeluarkan kartu identitas untuk dirinya.

Sena Mohammed bertemu keluarganya pada Kamis lalu (17/6) di seberang tepi Sungai Yordan, yang terletak antara Yordania dan Tepi Barat Palestina. Dia hanya dapat melambai dari jauh tanpa mendapat kesempatan untuk memeluk mereka.

Otoritas Israel tidak mengizinkan Sena, yang tinggal di Tepi Barat setelah menikah, untuk mengunjungi keluarganya di Yordania dengan dalih ia tidak memiliki kartu identitas.

Sena merupakan salah satu dari 50 ribu warga Palestina yang tidak diizinkan memiliki kartu identitas oleh penjajah Israel. Hal tersebut sebagai upaya Israel untuk mencegah terjadinya reunifikasi keluarga Palestina.

Sementara itu, warga Yorjania keturunan Palestina harus mendapat izin khusus yang harganya mahal dari otiritas Israel jika mereka ingin mengunjungi wilayah Palestina yang terjajah.

Sena saat itu berada di tepian barat Sungai Yordan, sementara keluarganya berada di tepian timur. Ia tidak dapat memeluk keluarganya meskipun mereka hanya terpisah beberapa meter saja. Pertemuan berlangsung kurang dari satu jam dan berada di bawah pengawasan tentara di kedua sisi sungai.

“Saya belum melihat keluarga saya selama 24 tahun. Kejahatanku hanyalah menikahi seseorang dari Tepi Barat. Saya tidak memiliki kartu identitas,” ucap Sena. “Hidup tanpa identitas berarti Anda bukan manusia, Anda bukan apa-apa.”

Ia mendesak otoritas Palestina dan Yordania untuk membantunya mendapatkan kartu identitas.

“Saya tidak ingin kehilangan salah satu anggota keluarga saya sebelum berjumpa dengan mereka. Sangat menyakitkan bagi saya untuk kehilangan orang tua saya sebelum saya bisa mengucapkan selamat tinggal kepada mereka,” katanya.

Sementara itu, hal serupa juga dialamai oleh Riba Al-Sulaimah di perbatasan Palestina - Yordania. Wanita tersebut tidak bertemu keluarga selama 11 tahun karena kebijakan rasis Israel. Dalam video yang beredar di media sosial ia tampak terharu melihat keluarganya dari kejauhan, “Diriku memelukmu. Aku tidak percaya dapat melihatmu,” ucap Riba.

 

Otoritas Penjajah Israel tidak mengakui pernikahan antara mereka yang tinggal di wilayah Palestina yang dijajah dan warga Palestina yang tinggal di luar Palestina atau warga negara asing untuk “reunfikasi keluarga.” Dan Israel tidak memberikan kartu identitas kepada pasangan mereka. (T/S: Anadolu, Shehab News)