Tagar #SaveSheikhJarrah Bergema di Sosial Media

Tagar #SaveSheikhJarrah Bergema di Sosial Media
Ilustrasi: Al-Qastal

AAI - Tanda pagar #SaveSheikhJarrah bergema di media sosial Twitter, setelah diinisiasi oleh para aktivis dan warga Al-Quds untuk menentang serangan pemukiman Israel yang massif di lingkungan Sheikh Jarrah.

Aksi tagar ini (dalam bahasa arab #انقذوا_حي_الشيخ_جراح) diinisiasi setelah keluarnya keputusan pengadilan Israel yang memerintahkan penggusuran tujuh kediaman milik keluarga Al-Quds di Sheikh Jarrah. Mereka pun diharuskan membayar sekitar 6.000 dolar untuk biaya pengacara dan pengadilan.

Salah satu akun di Twitter, @kurd_muna, dalam cuitannya mengungkapkan apa yang ia alami sebagai warga Palestina yang tinggal di Sheikh Jarrah:

“Pengadilan Pendudukan (Israel) memaksa keluarga saya dan tiga keluarga lainnya di lingkungan Sheikh Jarrah untuk mengosongkan rumah kami pada tanggal 2-5-2021 untuk kepentingan para pemukim (Israel).”

Ia pun menambahkan legitimasi warga Palestina yang tinggal di Sheikh Jarrah, “Pemerintah Yordania lah yang memberikan kami rumah-rumah ini berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani bersama kami pada tahun 1956, dan berjanji kepada kami untuk mendaftarkan tanah ini atas nama kami, tetapi sampai saat ini belum terjadi.”

 

 

Selama lebih dari 40 tahun, wilayah Sheikh Jarrah telah menghadapi rencana pemukiman Israel yang mengancam warga Palestina yang tinggal di sana. Mereka terancam diusir dari kediaman mereka untuk kepentingan pembangunan pemukiman Israel di atas tanah mereka.

Berawal dari tahun 1956, lingkungan Sheikh Jarrah didirikan di Al-Quds sesuai dengan kesepakatan antara UNRWA dan Pemerintah Yordania. Lingkungan tersebut menampung 28 keluarga Palestina yang terlantar pada saat itu. Perjanjian tersebut menetapkan bahwa keluarga Palestina tersebut membayar sewa selama 3 tahun, dan setelahnya pada 1959 kediaman tersebut akan beralih menjadi kepemilikan permanen untuk mereka. (T/S: Samanews)