Salahuddin Al-Ayyubi: Sang Pembebas Masjid Al-Aqsa

Ia berhasil membebaskan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa setelah 88 tahun dikuasasi Tentara Salib

Salahuddin Al-Ayyubi: Sang Pembebas Masjid Al-Aqsa
Ilustrasi Shalahuddin Al-Ayyubi dengan latar Masjid Kubah Emas (Sumber: rawafidpost)

AAI - Pada pekan ini (24-30 Rajab / 8-14 Maret), yang merupakan Pekan Global Al-Quds, terdapat peristiwa penting yang berkaitan dengan Al-Quds dan Al-Aqsa, yaitu pembebasan keduanya oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.

Salahuddin Al-Ayyubi merupakan salah satu pemimpin umat Islam paling terkemuka atas keberhasilannya dalam membebaskan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa dari Tentara Salib setelah 88 tahun diduduki mereka.

Ia merupakan pemimpin umat Islam yang pertama kali menyandang gelar ‘Penjaga Dua Masjid Suci’ (Khaadimul Haramayn) berkat perannya yang sangat penting di kawasan Hijaz, sebagaimana yang dicantumkan oleh ulama Bahauddin Shaddad dalam kitab ‘Al-Nawadir Al-Sulthaniyah’.

Kaum muslimin menggambarkan sosok Salahuddin sebagai pemimpin yang ideal. Sementara Tentara Salib menganggapnya sebagai pemimpin muslim sejati. Sosoknya dipuji dalam banyak buku sejarawan dan penulis, baik di dunia Timur maupun Barat.

Berikut beberapa peristiwa penting dalam perjalanan hidup Shalahuddin Al-Ayyubi:

 

1138 M / 532 H

Salahuddin Al-Ayyubi lahir di kota Tikrit, Irak. Ia merupakan putra dari Najmuddin al-Ayyubi, yang saat itu menjabat sebagai gubernur dengan wilayah mencakup Tikrit di Irak, Baalbek di Libanon dan Damaskus di Suriah, selama pemerintahan Daulah Al-Zankiyah.

Di masa mudanya, ia bergabung dalam operasi melawan Tentara Salib, sampai akhirnya ia menjadi komandan pasukan Damaskus.

 

1164-1169 M / 559-564 H

Di bawah kepemimpinan pamannya yang merupakan komandan pasukan Raja Nuruddiin Al-Zanki, Asad Shirkuh, Shalahuddin berpartisipasi dalam operasi melawan Mesir di bawah pemerintahan Daulah Fatimiyah. Di sana Shalahuddin tampil sebagai seorang tentara dan administrator yang ulung.

Shalahuddin pun akhirnya mulai ditunjuk untuk memerintah Mesir dan wilayah yang berada di bawahnya, setelah ia diangkat sebagai perwakilan Raja Nuruddin Al-Zanki di sana.

 

1171 M / 567 H

Pada tahun ini, kekuasaan Daulah Fatimiyah berakhir. Kemudian, Shalahuddin Al-Ayyubi mendeklarasikan berdirinya Daulah Ayyubiyah di Mesir.

 

1173 M / 568 H

Shalahuddin melancarkan operasi ke wilayah Yaman dan Hijaz, dan berhasil menjadikan keduanya bagian dari Daulah Ayyubiyah.

 

1181 M / 577 H

Shalahuddin menyeberang ke timur Sungai Efrat dan membebaskan beberapa kota di wilayah Jazirah Arab; seperti Diyarbakir, Urfa, Harran, Raqqa, Khabur, Ras Al-Ain, Dara, dan Nusaybin, sebelum akhirnya ia mengambil alih kota Aleppo, yang memiliki lokasi strategis dan penting dalam perjalanan menuju pembebasan Al-Quds dan Al-Aqsa.

 

1187 M / 583 H

Pada bulan Juli (Rabiul Akhir), Shalahuddin meraih kemenangan besar atas Tentara Salib di Pertempuran Hittin.

Pada tanggal 20 September (11 Rajab) ia mengepung kota Al-Quds. Dan pada tanggal 2 Oktober (27 Rajab), ia berhasil membebaskan kota tersebut dari pendudukan Tentara Salib yang telah berlangsung selama 88 tahun.

 

1189 M / 585 H

Tentara Salib yang tidak menerima kekalahan yang mereka alami. Mereka pun mengupayakan operasi baru dan mengepung Akka.

Di sana terjadi pertempuran sengit antara pasukan Shalahuddin dan Tentara Salib selama sekitar dua tahun.

 

1191 M / 587 H

Tentara Salib berhasil menguasai Akka. Akan tetapi Salahuddin berhasil mengalahkan upaya mereka untuk merebut kembali kota Al-Quds.

 

1992 M / 588 H

Setelah perang yang panjang dan melelahkan, kedua belah pihak melakukan rekonsiliasi, dan gencatan senjata disepakati pada tanggal 1 September (20 Sya’ban), untuk jangka waktu tiga tahun dan delapan bulan. Al-Quds tetap di tangan umat Islam, sementara orang Kristen diizinkan berziarah ke sana.

 

1193 M / 589 H

Salahuddin Al-Ayyubi wafat di Damaskus pada 4 Maret (27 Safar). Ia dimakamkan di Masjid Umayyah. 

(t/aai)