Ramadhan telah belalu, apakah duka itu masih memilu?

Ramadhan telah belalu, apakah duka itu masih memilu?

Palestina khususnya al Quds, termasuk wilayah paling menderita pada masa wabah ini. Diantara deretan negara yang masih dirundung konflik, Palestina adalah negara yang paling banyak menderita kerugian, baik dari sisi kemanusiaan maupun materil.

Sebab, di awal ditemukannya kasus positif suspect Korona di Betlehem sekitar sebulan sebelum Ramadhan, Palestina harus bersiap menghadapi masalah baru selain dari invasi dan penjajahan, yaitu wabah COVID-19.

Tentu saja wabah tersebut masih eksis hingga Ramadhan kemarin. Ramadhan paling pilu sepanjang penjajahan di Palestina. Sebab, penduduk Palestina yang khususnya al Quds tidak bisa lagi mengunjungi dan memakmurkan Masjidil Aqsha. Para ulama di al Quds sepakat menutup al Aqsha demi mencegah madharat akibat Korona. Ini semua semakin menambah luka dalam hati penduduknya. Jika di tahun-tahun sebelumnya mereka masih bisa tarawih dan shalat di Al Aqsha walau dalam bayang-bayang penyempitan dan penindasan Zionis, namun Ramadhan tahun ini itu semua tidak bisa dilakukan lagi. Bukan karena Zionis, namun karena Korona. Walaupun disisi lain, Zionis mengeksploitasi isu Korona ini untuk kepentingan para ekstrimis mereka. 

Namun itu semua telah berlalu dan berita terbaru bahwa di Palestina sudah ada beberapa masjid yang dibuka untuk shalat jum'at, seiring penurunan intensitas penderita wabah. Mudah-mudahan itu adalah angin segar yang nantinya akan membuka al Aqsha kembali, sehingga syiar-syiar Islam terlihat lagi di negeri para nabi tersebut.  Kendati pun, masalah pokok al Quds dan Al Aqsha belum usai, yaitu penjajahan. Setidaknya usainya Korona di al Quds secara khusus dan Palestina secara umum, dapat menjadi pompa dan semangat baru bagi para pejuang dan murabithah dalam membebaskan al Aqsha dari cengkeraman bangsa hina yang nenek moyangnya pernah dikutuk menjadi kera dan babi tersebut.