Ratusan Warga Maroko Berdemonstrasi Menentang Normalisasi Negaranya dengan israel

Rabat, AAI – Ratusan warga Maroko pada hari Rabu (22/12) keluar ke jalan-jalan di sejumlah kota memprotes normalisasi hubungan dengan entitas Zionis israel, pada peringatan satu tahun penandatanganan perjanjian normalisasi antara Maroko dan israel.


Aksi protes damai ini merupakan inisiasi yang diserukan oleh Front Maroko Pendukung Palestina untuk menentang normalisasi hubungan dengan israel.


Para demonstran meneriakkan slogan dan yel-yel yang menentang normalisasi dan menuntut dibatalkannya kesepakatan normalisasi antara Maroko dan israel. Mereka meneriakkan slogan seperti; ‘Maroko adalah tanahku, Zionis harus pergi,’ ‘Palestina melawan, tapi rezim menawar,’ ‘Wahai Zionis terkutuk, Palestina di depan mata,’ ‘Dari Maroko hingga Palestina, adalah satu bangsa,’ dan slogan-slogan lainnya. 


Dalam demonstrasi yang disiarkan langsung di kanal media sosial itu, terlihat adanya intervensi dari pasukan keamaan yang mencegah demonstrasi protes di beberapa kota, seperti Rabat dan Casablanca.


Koordinator Komite Maroko untuk Dukungan Masalah Bangsa, Abdelsamad Fathi dalam aksi protes di ibu kota Rabat mengatakan, “Para penjajah Zionis di Palestina berusaha untuk menduduki Maroko juga, dan menyabotasenya secara ekonomi, politik dan sosial.”


“Akan kah kebaikan datang dari Zionis?” tambahnya bertanya-tanya, mengingat Maroko telah digadaikan dan dihancurkan melalui perjanjian normalisasi.


Fathi turut menegaskan kembali posisi Front Maroko dalam mendukung Palestina dan menentang normalisasi hubungan dengan israel, dan terus menyerukan kepada rakyat Maroko untuk menolaknya.


Pada 22 Desember 2020, Maroko menandatangani perjanjian 3 pihak dengan Amerika Serikat dan israel, yang memungkinkan dimulainya kembali hubungan diplomatik antara Rabat dan Tel Aviv. Perjanjian tersebut terjadi saat AS masih dipimpin Donald Trump, dan ia menjanjikan pengakuan kedaulatan Maroko atas wilayah sengketa Sahara Barat yang sedang dikuasi Front Polisaro.


Rabat mengusulkan wilayah otomoni yang diperluas di bawah kedaulatannya di wilayah Sahara, sementara Polisaro menyerukan referendum untuk penentuan nasib mereka sendiri, yang didukung oleh Aljazair – sebagai tetangga Maroko – yang sudah menampung para pengungsi dari wilayah tersebut. (T/S: Anadolu)