Masjid Al-Aqsa di 2021: Rangkaian Penodaan Situs Suci Umat Islam oleh israel

Al-Quds, AAI – Dengan lebih dari 34.500 pemukim ekstremis israel menerobos masuk ke dalamnya, Masjid Al-Aqsa menjadi saksi atas banyaknya serangan israel di tahun 2021.  


Serangan israel terhadap Masjid Al-Aqsa pada tahun 2021 sangatlah masif, di antaranya para pemukim Zionis menerobos masuk setiap harinya, melakukan ritual provokatif di dalamnya, pasukan israel turut menyerang, menangkap dan melecehkan warga Palestina yang sedang berada di Masjid Al-Aqsa.


Serangan Pemukim Zionis ke Masjid Al-Aqsa

Otoritas penjajah israel mengizinkan para pemukim Zionis menerobos masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa sejak tahun 2003, dengan perlindungan pasukan keamanan mereka, walau pun terdapat banyaknya keluhan dan peringatan yang berulang kali dilayangkan oleh otoritas keagamaan Palestina karena kunjungan tersebut telah memprovokasi para jama’ah umat muslim Palestina. 


Sejak awal 2021, terdapat sebanyak 34.562 pemukim Zionis israel menerobos masuk ke situs suci tersebut. Angka ini mencatatkan sebuah rekor baru, di mana pada 2020 sebanyak 19 ribu dan pada 2019 sebanyak 29.700 pemukim Zionis masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa, sebagaimana dilaporkan pusat media dan informasi Palestina di kota Al-Quds, Al-Qastal. 


Di antara mereka yang menerobos masuk ke Masjid Al-Aqsa adalah pelajar Yahudi, pemukim israel, perwira dan tentara israel, pejabat otoritas penjajah dan anggota parlemen Knesset.


Al-Qastal mencatat bahwa pada tahun 2021, pasukan penjajah israel dilengkapi dengan berbagai persenjataan untuk memfasilitasdi dan memberikan perlindungan kepada para pemukim Zionis yang  ingin menerobos masuk ke Masjid Al-Aqsa setiap harinya.


Para pemukim masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa dalam 2 sesi, pagi dan sore hari. Mereka masuk melalui Gerbang Al-Mughrabi, kemudian melakukan ritual Talmud yang memprovokasi jama’ah Palestina, sebelum akhirnya meninggalkan kompleks melalui Gerbang Al-Silsila.


Ketika berada di dalam Masjid Al-Aqsa, beberapa pemukim Zionis merayakan pernikahan mereka di bawah perlindungan pasukan israel, sementara yang lainnya mengibarkan bendera penjajah israel.


Beberapa pemukim Zionis juga mencoba menyalakan lilin dan kertas di Masjid Al-Aqsa dan melakukan perayaan yang disebut festival cahaya atau Hanukkah, yang berlangsung selama 8 hari, di mana 1.816 pemukim masuk ke Masjid Al-Aqsa, menurut Al-Qastal.


Pada November lalu, rabi ekstremis Yacoub Hemin menerbitkan foto Masjid Qubbah Al-Shakhrah (Masjid Kubah Emas) di laman akun media sosial pribadinya, dengan menyatakan bahwa dirinya sedang mencari seorang insinyur yang memiliki spesialisasi dalam menghancurkan bangunan agar dapat menjelaskan bagaimana cara menghilangkan Masjid Kubah Emas dari dalam kompleks dan memindahkannya ke luar Al-Aqsa.


Dari Ritual Diam-Diam Hingga Seruan Kunjungan Pelajar

Pada Oktober 2021, dalam sebuah keputusan yang belum pernah diambil sebelumnya, seorang hakim israel memutuskan bahwa ritual hening yang dilakukan pemukim israel di kompleks Masjid Al-Aqsa bukanlah sebuah ‘tindakan kriminal’ jika mereka tetap menjalankannya secara diam-diam, karena tidak akan melanggar instruksi polisi.


Keputusan tersebut menuai kecaman dari Pemerintah Yordania, yang membawahi Departemen Wakaf Al-Quds sejak tahun 1948. Yordania mengatakan bahwa hanya badan wakaf itulah satu-satuinya otoritas hukum yang memiliki hak dalam mengeloloa segala urusan Al-Aqsa, dan menambahkan keputusan israel itu merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap status historis dan hukum Masjid Al-Aqsa.


Tak berselang lama, Pengadilan israel membatalkan keputusan mereka, menyusul terdapat banyaknya kemarahan di antara orang-orang Palestina yang menolak keputusan tak berdasar itu.


Pada November 2021, untuk pertama kalinya sejak Masjid Al-Aqsa diduduki pada tahun 1967, Komite Pendidikan Knesset israel merekomendasikan Kementerian Pendidikan israel untuk memasukkan Masjid Al-Aqsa sebagai situs wajib untuk dikunjungi oleh para pelajar Yahudi, di mana mereka akan ‘mempelajari’ sejarah yang israel buat-buat tentangnya.


Serangan israel Terhadap Penjaga Al-Aqsa

Al-Qastal mencatat, bahkan para penjaga Masjid Al-Aqsa dan petugas Departemen Wakaf Al-Quds tidak luput dari serangan otoritas penjajah israel. Para penjaga dan petugas tersebut berupaya menghalangi serbuan para pemukim ke dalam Masjid Al-Aqsa, namun mereka diserang oleh pasukan israel.  Rumah mereka pun digerebek dan digeledah, mereka turut dilarang untuk bepergian, sebagiannya ditangkap, dipanggil untuk diinterogasi, dan dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa.


Lebih dari 20 penjaga Masjid Al-Aqsa dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa pada tahun 2021, untuk jangka waktu yang bervariasi, antara satu pekan hingga 6 bulan lamanya.


Otoritas penjajah israel juga menghalang-halangi para penjaga dan komite renovasi untuk melakukan kerja pemeliharahan dan perbaikan di dalam Kompleks Masjid Al-Aqsa.


Pada tahun 2021, Al-Qastal menambahkan, sebanyak lebih dari 15 penjaga Al-Aqsa terluka akibat peluru karet yang ditembakkan pasukan israel terhadap jama’ah Palestina selama bulan Ramadhan lalu, yang menyebabkan terjadinya eskalasi dan berakhir pada agresi israel selama 11 hari pada Mei lalu di Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya 232 warga Palestina, 65 di antaranya anak-anak. 


Pasukan israel: Dari Penyerangan dan Penangkapan Hingga Pelarangan dan Pelecehan

Pada tahun 2021, pasukan penjajah israel dengan brutalnya menyerang, memukul, menangkap dan menggeledah warga Palestina. Dokumen identitas mereka disita, pergerakan mereka dibatasi, mereka turut dihalang-halangi dan dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa.


Al-Qastal mendokumentasikan, otoritas penjajah israel di tahun 2021 telah mengeluarkan 315 perintah larangan memasuki Masjid Al-Aqsa terhadap warga Palestina. Jangka waktu larangan tersebut beragam, dimulai dari satu pekan hingga 6 bulan.


Di bulan September, pasukan israel mencegat sebuah bus jama’ah Palestina yang datang dari kota Umm Al-Fahm di wilayah Palestina 48, untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsa. israel mengklaim bahwa jama’ah tersebut akan menyebabkan ‘penghasutan dan kerusuhan’.


Pada bulan Oktober, pasukan israel juga mencegat ratusan warga Palestina yang datang dari Tepi Barat menuju ke Masjid Al-Aqsa. Mereka dipaksa untuk melakukan shalat di pelataran Gerbang Al-Amud, salah satu gerbang Kota Tua Al-Quds menuju Masjid Al-Aqsa. Ini bukanlah peristiwa terakhir kalinya warga Palestina Tepi Barat dilecehkan oleh israel.


Selama tahun 2021, pasukan penjajah israel beberapa kali memasang pagar besi di pelataran Gerbang Al-Amud, untuk menghalang-halangi akses bagi jama’ah Palestina dan mengganggu mereka untuk pergi ke Masjid Al-Aqsa.


Pelataran Gerbang Al-Amud merupakan medan pertempuran dan ketegangan yang melibatkan sejumlah besar anggota polisi dan pasukan israel, termasuk pasukan berkuda, sepanjang tahun 2021. Mereka menggunakan meriam air untuk membubarkan perkumpulan warga Palestina di sana, dan juga menyerang dan menahan beberapa di antaranya.


Pada bulan Mei 2021, serangan kekerasan yang dilancarkan oleh polisi israel terhadap perkumpulan warga Palestina di Gerbang Al-Amud memicu ketegangan di seluruh kota suci Al-Quds yang menyebabkan agresi 11 hari israel di Jalur Gaza.


Masjid Al-Aqsa Sebagai Situs Suci 

Nama Al-Aqsa merujuk kepada kompleks seluas 14,4 hektar di kota suci Al-Quds Palestina, yang disebut juga sebagai Al-Haram Al-Sharif, atau Tempat Suci, oleh umat Islam. Di dalamnya terdapat 2 masjid besar yang ikonik, yaitu Masjid Kubah Emas dan Masjid Al-Qibly.


Kompleks itu terletak di dalam Kota Tua Al-Quds, yang mana telah ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh badan budaya PBB, UNESCO. 


Ia merupakan kiblat pertama dalam Islam, di mana umat muslim harus menghadapnya ketika sholat, sebelum akhirnya kiblat dipindahkan ke Ka’bah di kota Mekkah.


Sementara itu orang-orang Yahudi menyebut daerah tersebut dengan nama Temple Mount, dan mengklaim bahwa ia adalah situs yang memuat dua kuil Yahudi terkemuka di zaman kuno.


Di dalam Kota Tua Al-Quds juga terdapat Gereja Makam Kudus, salah satu situs umat Kristiani paling suci di dunia. (T/S: Quds News)