14 Negara Afrika Tolak Keanggotan Penjajah Israel dalam Uni Afrika

Status anggota pengamat Israel di Uni Afrika menuai kecaman dari negara-negara anggota lainnya

14 Negara Afrika Tolak Keanggotan Penjajah Israel dalam Uni Afrika

Aljir, AAI - Aljazair secara resmi telah menginisiasi pembentukan blok negara-negara Afrika untuk menolak keanggotaan entitas penjajah Israel dalam organisasi Uni Afrika.

Surat kabar online Rai Al-Youm, sebagaimana dilansir Quds News pada Ahad (1/8), melaporkan bahwa 14 negara Afrika telah setuju untuk membentuk sebuah blok yang bertujuan menolak keanggotaan penjajah Israel dalam Uni Afrika. Ke 14 negara tersebut adalah; Afrika Selatan, Tunisia, Eritrea, Senegal, Tanzania, Niger, Comoros, Gabon, Nigeria, Zimbabwe, Liberia dan Seychelles.

Menteri Luar Negeri Aljazair, Ramtane Lamamra, diperkirakan juga akan membahas permasalahan keanggotaan Israel dalam organisasi Uni Afrika pada lawatannya yang mendatang ke empat negara Afrika lainnya, yaitu Tunisia, Ethiopia, Sudan dan Mesir.

Lamamra menekankan bahwa langkah-langkah diplomatik ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap keanggotaan negara penjajah Israel di Uni Afrika sebagai anggota pengamat (observer member). Menurutnya, pemberian status tersebut adalah pencapaian yang telah dikerjakan oleh para diplomat Israel selama belasan tahun.

Lamamra juga mengungkapkan bahwa Israel sebelumnya telah memperoleh status sebagai anggota pengamat dalam Organisasi Persatuan Afrika (Organization of African Unity / OAU), tetapi pada tahun 2002 status keanggotaannya dicabut karena OAU dibubarkan dan digantikan oleh Uni Africa (African Union / AU).

Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan turut mengutuk dan menyesalkan keanggotaan Israel dalam Uni Afrika. Bagi mereka, keputusan tersebut bahkan lebih mengejutkan dalam satu tahun terakhir di mana warga Palestina dihantui oleh bombardir yang sangat merusak serta pemukiman ilegal yang terus menerus berjalan.

Afrika Selatan akan meminta Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, untuk memberi tahu negara-negara anggota tentang keputusan kontroversial itu dan berharap permasalah itu akan dibahas di tingkat kepala negara dan pemerintahan.

Uni Afrika merupakan badan perwakilan yang terdiri dari 54 negara-negara Afrika yang mayoritasnya menolak penjajahan ilegal, penindasan diskriminatif dan perampasan tanah yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

Israel telah mengajukan dokumen diplomatik berupa Surat Kepercayaan untuk kembali bergabung dengan Uni Afrika sebagai anggota pengamat. Pada Jum’at 23 Juli 2021, permohonan Israel tersebut berhasil diajukan dan dikabulkan oleh Uni Afrika setelah negara penjajah itu kehilangan status kenggotannya selama 19 tahun.

Setelah pengajuan tersebut, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid mengaitkan tonggak pencapaian tersebut dengan upaya Kementerian Luar Negeri Israel. Ia mengatakan bahwa prestasi diplomatik itu akan mengoreksi anomali hubungan yang telah ada antara Israel dan negara-negara Afrika.

“Ini adalah hari untuk merayakan hubungan Israel-Afrika. Pencapaian diplomatik ini merupakan hasil dari upaya Kemenlu (Israel), Divisi Afrika, dan kedutaan besar Israel di benua tersebut,” ucapnya. (T/S: Quds News, Aljazeera)