Pembantaian Masjid Al-Ibrahimi, 25 Februari 1994

Pembantaian dilakukan oleh teroris Yahudi, Baruch Goldstein

Pembantaian Masjid Al-Ibrahimi, 25 Februari 1994

AAI - Jumat, 25 Februari 1994, yang bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan 1414 H, teroris Yahudi Baruch Goldstein melakukan pembantaian ketika dia memasuki Masjid Al-Ibrahimi di Hebron pada saat shalat subuh sedang berlangsung. Dia mengenakan seragam militer dan menembakkan tiga magazin menggunakan senapan mesinnya ke arah para jamaah Palestina yang sedang melakukan shalat Subuh. 29 warga Palestina yang sedang shalat subuh meninggal dunia dan lebih 150 lainnya luka-luka. Sejumlah jamaah shalat yang selamat dari pembantaian akhirnya melucuti Goldstein dan membunuhnya.

Pasukan pendudukan Israel yang ada di dalam area masjid menutup pintu-pintu masjid untuk mencegah jamaah shalat keluar dari tempat kejadian, serta mencegah orang-orang yang datang dari luar masuk ke area masjid untuk menyelamatkan para jamaah yang terluka. Kemudian, yang lain dibunuh oleh tentara Israel di luar masjid dan selama mengantar pemakaman para korban pembantaian, menambah jumlah korban jiwa dari warga Palestina.

Baruch Goldstein, lelaki yang berusia 42 saat menjalankan aksinya tersebut adalah seorang dokter dari gerakan Kach. Dia datang ke Palestina dari Amerika pada tahun 1980 dan tinggal di permukiman Yahudi Kiryat Arba di Hebron. Sebelum melakukan pembantaian tersebut, dia menyatakan bahwa dia akan "benar-benar menghentikan sejarah", seperti yang dia klaim pada saat itu.

Pada hari pembantaian, ketegangan meningkat di kota Hebron dan desa-desanya serta semua kota Palestina. Jumlah korban meninggal akibat konfrontasi dengan pasukan penjajah Israel pasca pembantaian itu mencapai 60 orang.

Masjid Al-Ibrahimi diyakini sebagai tempat pemakaman Nabi Ibrahim, anaknya (Ishak) serta cucunya (Yakub) dan juga istri mereka. Hal ini menjadi dasar bagi Zionis Yahudi untuk menguasi masjid tersebut. (T/S: Berbagai sumber)